ABOUT ME
Selamat datang di blog ku yang satu
ini
Lah emang punya blog lain? Ada.. tapi belum berani publish, hehe😁
Oke, sebagai postingan pertama aku bakal
cerita tentang diriku sendiri. Bukan tentang dari mana aku berasal, hobiku apa,
makanan favorit ataupun warna kesukaan. Sekali lagi, bukan tentang itu semua. Tapi
aku akan cerita tentang rasa sakit yang aku alami. Lah ko malah sedih-sedihan? Engga,
bukan gitu. Justeru dari rasa sakit itu aku berharap diri ini bisa lebih tegar,
lebih kuat serta bangkit dari keterpurukan.
Sesuatu
yang selama ini menghantui pikiran, menyakiti raga, dan memutus asa.
Entah
kenapa setelah lihat postingan teman tadi, aku jadi tergerak untuk buka apa yang
aku anggap aib selama ini. Aku dan temanku ternyata merasakan hal yang sama.
Pada tahun 2014, ada “sesuatu” yang
tumbuh pada diri ini. Menimbulkan ketidak nyamanan dan mengganjal. Tapi karena
terlalu takut untuk cerita ke siapa pun, maka aku coba mengabaikan. Acuh sama
diri sendiri. Kepikiran tapi gamau dipikirin. Gimana tuh hayo? Ya begitu. Diam dan
diam. Hari demi hari dilalui. Dan rasa takut semakin memenuhi hati seiring
dengan perkembangan “sesuatu” itu. Tau ga kalian apa yang aku lakuin? Berusaha positive
thinking sama Allah. “Ratu, itu bukan apa-apa. Nanti juga ilang ko dengan
sendirinya”. Setiap berusaha ngeyakinin diri sendiri pasti rasa khawatir juga
muncul. Teruus begitu sampai akhirnya ngerasa cape. Padahal semakin jelas bahwa
ada yang ga beres.
Mungkin memang sudah begini takdir digoreskan. Sehebat apapun aku menutupi kejanggalan yang aku alami, bagi Allah mudah aja membukanya. Tepat bulan Maret tahun 2017 sebelum UNBK terlaksana, Allah bongkar semua rahasia yang aku tutup rapat-rapat. Ayah dan ibu tau, lantas bawa aku ke dokter. Dokter bilang aku kenapa? Tumor jinak. Kaget bukan kepalang! Tangis memecah ruangan. Udah ga mikir apa-apa lagi kecuali MATI. Demi hasil akurat, aku coba ke dokter lain dan jawabannya sama. Keduanya menjawab tumor jinak.
Mungkin memang sudah begini takdir digoreskan. Sehebat apapun aku menutupi kejanggalan yang aku alami, bagi Allah mudah aja membukanya. Tepat bulan Maret tahun 2017 sebelum UNBK terlaksana, Allah bongkar semua rahasia yang aku tutup rapat-rapat. Ayah dan ibu tau, lantas bawa aku ke dokter. Dokter bilang aku kenapa? Tumor jinak. Kaget bukan kepalang! Tangis memecah ruangan. Udah ga mikir apa-apa lagi kecuali MATI. Demi hasil akurat, aku coba ke dokter lain dan jawabannya sama. Keduanya menjawab tumor jinak.
Seketika hati aku hancur. Gabisa nerima kenyataan pahit itu. Ternyata yang selama ini aku sembunyiin itu penyakit. Tiga tahun lamanya aku bungkam. UN semakin dekat, dan psikologis aku sangat buruk. Beberapa jam nangis, kemudian berhenti, lalu nangis lagi. Begitu terus hari-hari yang aku lalui. Tapi Alhamdulillah, banyak pihak yang mulai transfer kekuatan. Ada yang bilang, “gapapa, insyaaAllah jadi penggugur dosa”. Ada juga yang nyemangatin, “jangan mikir yang macem-macem, perjalanan kamu masih panjang.” Dan lain sebagainya.
Bayangkan, aku menjalankan UN dengan keadaan seperti itu. Sampai akhirnya waktu perpisahan sekolah tiba. Qadarullah tanggal pelaksaannya berdekatan dengan jadwal aku operasi. Tepatnya saat aku bedrest. Salah satu mimpi aku ada di situ. Maju dan naik ke atas panggung, dikalungkan piagam dan dapet penghargaan siswa terbaik. Tapi nyatanya mimpi itu aku buang jauh-jauh. Kenapa? Aku gabakal bisa dateng. Mending kalau masih hidup. Kalau operasinya gagal lantas aku mati? Gaada yang bisa menjamin. Kenapa terus-terusan mikir mati? Emang separah apa? Cukup parah. Karena didiemin 3 tahun.
Aku pasrah, membiarkan Allah mengatur segalanya. Pada titik terlemah ini, saat aku merasa gaada kekuatan lagi, justeru Allah menunjukkan ke-Maha Baik-an Nya. Operasi berjalan lancar tanpa kendala apapun. Dan Alhamdulillah lagi jadwal perpisahan diundur. Semua mimpi yang aku buang, ku ambil kembali dan terwujud. Seketika aku sadar, ada kebahagiaan dibalik kesedihan yang Allah beri pada hamba-Nya. Aku bersih dari penyakit itu.
Sayangnya.. aku masih merasakan sakit sampai detik ini. Setiap ada orang yang bercerita tentang penyakit itu, aku sesak. Benar-benar sesak memenuhi dada. Aku merasa ga sempurna. Ga seperti manusia lainnya. Ini salah satu alasan kenapa aku menyamakan diriku dengan “mawar penuh cacat”. Aku ingin sekali seperti mawar. Semua orang menyukainya. Indah, sedap dipandang, harum semerbak dan menyejukkan. Setiap pecinta pasti menjaganya. Tapi bagaimana dengan mawar cacat? Adakah yang akan merawatnya demikian? Aku ga yakin.
Ibrah terbesar dari semua yang aku rasakan adalah bahwa aku harus pandai bersyukur. Terlebih kalian yang Allah beri kesehatan sempurna. Menggunakan waktu untuk hal-hal manfaat. Sebab kita gaakan pernah tau, kapan malaikat Izrail mencabut ruh dari jasad kita.-

Menginspirasi.. Semoga sehat selalu ya Tu..👍
BalasHapusAamiin, Terimakasiih
Hapus