KEHILANGAN

Bagaimana rasanya jika sesuatu dalam genggaman terlepas begitu saja? Atau sesuatu yang kita miliki tiba-tiba hilang entah kemana? Sedih bukan?

Tentu, karena kita sudah merasa memiliki. Sebagaimana yang dialami mba berjilbab coklat di sebuah halte kemarin. 


Siang itu, baru saja ia pulang bekerja. Hendak menuju rumah menaiki Bus Trans Jakarta. Pukul 15.03 belum cukup sore, tapi suasana halte ramai oleh orang mengantre. Lama menunggu, datang lah Bus yang akan dinaikinya. Setelah mendapat posisi yang nyaman, ia membuka ponsel. Mungkin mengabari kerabatnya bahwa ia sedang perjalanan menuju rumah. Beberapa halte dilewati.. Saat hendak mengecek kembali balasan dari kerabatnya, ponselnya tidak dijumpai. Tidak ada dalam tas dan tidak terjatuh. Seketika dadanya berdebar kencang. Panik tak karuan. Mencoba mengecek ulang. “semoga keselip”, begitu ujarnya dalam hati. Tiga kali dicek, ponselnya tetap tidak dijumpai. Saat itulah ia sangat yakin bahwa ponselnya telah berpindah tangan. Kebetulan, beberapa meter lagi tiba di halte Matraman. Padahal, tujuannya bukan halte itu. Dengan segera ia turun lalu melapor pada petugas. Ia berharap pencuri ponselnya masih di dalam bus Trans Jakarta yang ia naiki. Namun sayang, ia kurang cepat bertindak. Karena bersamaan dengan hal itu, orang-orang ada yang sudah turun dari bus dan melanjutkan perjalannya. 

Pukul 15.10 petugas meminta dengan hormat bagi para penumpang bus yang berada di posisi dekat pintu untuk keluar sebentar. “mohon maaf bagi para penumpang yang berdiri dekat pintu untuk keluar sebentar, karena ada yang kehilangan ponsel dan dia pengen cek satu per satu yang berdiri di dekatnya tadi”, ujar petugas. Ia yang kehilangan, maka ia sendiri yang mengecek para penumpang; dibantu petugas. Mulai dari tas hingga saku. Lima menit berlalu, dan hasilnya nihil. Tapi bus ini masih belum diizinkan berjalan.

Seorang ibu separuh baya mulai resah, protes pada petugas. Menurutnya, tindakan mba yang kehilangan ponsel itu tidak tepat. Banyak orang yang buru-buru hendak melakukan perjalanan atau aktivitas lain, begitu dalihnya. Karena merasa tidak digubris, tiga menit kemudian ibu ini protes ke supir bus. “pak ini gimana sih, masa cuma gara-gara satu orang jadi ngorbanin satu bus. Jalan pak!”. Penumpang bus yang lain mulai terpancing, suasana dalam bus menjadi riuh. “pak, saya bilang jalan!! Gabisa gini dong, saya buru-buru!”, teriaknya emosi. Dibalaslah dengan pak supir, “ya saya juga sama bu, pengennya jalan aja. Tapi kan itu petugasnya belum ngizinin. Ya bilanglah sama petugasnya!”. Maka, suasana saat itu benar-benar membuatku pusing. Ingin rasanya menutup kuping lantas keluar turun dari bus.- 

Aku pun penumpang dalam bus itu, seperti mba yang kehilangan ponsel, juga ibu separuh baya yang marah-marah. Aku pun sama, tak bisa menunggu waktu lebih lama karena takut tertinggal kereta. Tapi, saat itulah aku merasa kesabaranku diuji. Dan sejauh mana tetap tenang tanpa meluapkan amarah. Aku pernah merasakan bagaimana rasanya di posisi mba jilbab coklat itu. Paniknya bukan main. Dan deg degannya luar biasa. Maka bagiku wajar jika mba itu ingin mengecek para penumpang. Tapi seribu kali sayang, kemungkinan ditemukannya sangat kecil. 

Dan aku paham betul dengan keadaan ibu paruh baya yang tidak bisa ditunda perjalannya. Tapi menurutku, tindakannya yang memarahi petugas dan supir bus, serta merasa paling benar pun tidak tepat. Selagi masih bisa dibicarakan pelan-pelan, kenapa tidak? 

Kejadian ini aku ceritakan pada kalian dengan harapan agar kita bisa sama-sama menjaga barang bawaan dengan baik. Segala yang kita miliki adalah tanggung jawab kita. Jangan mengeluarkan barang berharga di tempat yang padat dan ramai. Itu salah satu caranya. 


Kehilangan apapun kita akan bersedih hati. Baik barang maupun seseorang. Maka jaga keduanya dengan baik, jangan sampai menyesal kemudian hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ABOUT ME

HAMPIR USAI~